Pelajaran ASWAJA
Sikap Kemasyarakatan Nahdlatul Ulama'
1. Tawassuth dan I'tidal
Tawassuth artinya tengah-tengah maksudnya menempatkan diri di tengah-tengah antara dua yang tatharruf dalam berbagai masalah dan keadaan untuk mencapai kebenaran, serta menghindari keterlanjuran ke kiri dan ke kanan secara berlebihan. Sikap tawassuth itu harus di barengi dengan i'tidal artinya tegak lurus, maksudnya berlaku adil, tidak berpihak kecuali pada yang benar dan harus di bela.
Warga NU, baik secara pribadi maupun secara kelompok atas nama organisasi harus berpegang teguh pada sikap tawassuth dan i'tidal. Sikap ini harus menyertai sikap langkahnya, dalam menghadapi segala masalah dan keadaan. NU dan warganya dalam menghadapi suatu masalah ia harus netral, tidak berpihak pada salah satunya, tidak membenarkan yang satu dan menyalahkan yang lain, tidak membela yang satu dan mengalahkan yang lain, tidak condong yang satu dan meninggalkan yang lain. Allah berfirman dalam surat Al Maidah ayat 8 yang artinya : "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adil lah, karena adil itu dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".
Allah SWT. dalam ayat ini memerintahkan orang mukmin untuk selalu menegakkan kebenaran dengan seadil adilnya, tidak boleh condong kepada seseorang atau suatu masalah meskipun dilatar belakangi oleh kebencian atau kecintaan. Berlaku adil baik dalam urusan agama maupun hubungan antar manusia adalah merupakan suatu bentuk ketaqwaan kepada Allah.
2. Tasamuh
Tasamuh artinya saling memaafkan. Sikap tasamuh disebut juga dengan sikap toleransi, maksudnya adalah sikap lapang dada, mengerti dan menghargai, sikap pendirian dan kepentingan pihak lain, tanpa mengorbankan pendirian dan harga diri. Seseorang yang bersikap tasamuh harus mempunyai keyakinan bahwa dirinya apa yang menjadi pendapatnya dan apa yang dilaksanakannya adalah benar, akan tetapi harus mempunyai kesadaran bahwa orang lain yang tidak sama pendiriannya dengan dirinya adalah tidak salah yang benar adalah tidak hanya dirinya sendiri.
Warga NU baik secara pribadi maupun bersama-sama harus selalu bersikap tasamuh. Mereka bersedia untuk berbeda pendapat, baik dalam masalah keagamaan maupun masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. Mereka tidak boleh memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Mereka juga harus siap bila pendapatnya tidak diikuti oleh orang lain. Tetapi mereka juga tidak harus mengikuti pendapat orang lain kecuali bila ternyata pendapat orang lain itu lebih baik dan lebih benar daripada pendapat mereka sendiri. Allah berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 11 yang artinya : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah kefasiqan (panggilan yang buruk) sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat maka mereka ialah orang-orang yang zalim".
Warga NU baik secara pribadi maupun bersama-sama harus selalu bersikap tasamuh. Mereka bersedia untuk berbeda pendapat, baik dalam masalah keagamaan maupun masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. Mereka tidak boleh memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Mereka juga harus siap bila pendapatnya tidak diikuti oleh orang lain. Tetapi mereka juga tidak harus mengikuti pendapat orang lain kecuali bila ternyata pendapat orang lain itu lebih baik dan lebih benar daripada pendapat mereka sendiri. Allah berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 11 yang artinya : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah kefasiqan (panggilan yang buruk) sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat maka mereka ialah orang-orang yang zalim".
3. Tawazun
Tawazun atau saling menimbang. Artinya keseimbangan mempertimbangkan dan memperhitungkan berbagai faktor berusaha memadukan secara proposional. Tawazun dalam kehidupan sehari hari diterapkan dengan mempertimbangkan segala aspek secara proposional sebelum memutuskan atau melaksanakan sesuatu.
NU dan seluruh warganya baik secara organisasi atau pribadi selalu berusaha menerapkan sikap tawazun itu dalam segala bidang. NU dalam menetapkan keputusannya, baik yang berkaitan dengan masalah keagamaan atau masalah kemasyarakatan selalu mempertimbangkan berbagai faktor yang melatar belakangi permasalahan itu. Warga NU pun demikian, sikap tawazun diharapkan memengaruhi segala bidang kehidupannya, karena hal ini merupakan kunci keberhasilan dan kemantapan.
Dengan menerapkan sikap tawazun, maka seseorang akan selalu berhati-hati tetapi tidak takut, sehingga tidak akan terjebak dalam kesulitan atau permasalahan yang lebih rumit lagi. Tawazun tidak boleh diartikan secara negatif, sehingga menjadi hambatan dari berbagai aktivitas tetapi harus dimaknai secara positif sehingga menjadi rambu dan penuntun kepada kemudahan dalam menjalankan aktivitasnya. Allah berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 6 yang artinya : "Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu".
NU dan seluruh warganya baik secara organisasi atau pribadi selalu berusaha menerapkan sikap tawazun itu dalam segala bidang. NU dalam menetapkan keputusannya, baik yang berkaitan dengan masalah keagamaan atau masalah kemasyarakatan selalu mempertimbangkan berbagai faktor yang melatar belakangi permasalahan itu. Warga NU pun demikian, sikap tawazun diharapkan memengaruhi segala bidang kehidupannya, karena hal ini merupakan kunci keberhasilan dan kemantapan.
Dengan menerapkan sikap tawazun, maka seseorang akan selalu berhati-hati tetapi tidak takut, sehingga tidak akan terjebak dalam kesulitan atau permasalahan yang lebih rumit lagi. Tawazun tidak boleh diartikan secara negatif, sehingga menjadi hambatan dari berbagai aktivitas tetapi harus dimaknai secara positif sehingga menjadi rambu dan penuntun kepada kemudahan dalam menjalankan aktivitasnya. Allah berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 6 yang artinya : "Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu".
Komentar
Posting Komentar